Perbedaan ‘Ain Dari Rasa Kagum Dengan ‘Ain Dari Rasa Dengki

Kopisruput.net – Ain adalah penyakit yang timbul dikarenakan pandangan mata hasad atau takjub. Rasulullah shallallahu alaihi wassalam telah memperingatkan bahaya ain ini, baca pembahasannya [Disini]. Kita sudah pernah membahas masalah ‘ain karena hasad dan takjub ini, namun kali ini kita akan mengulas perbedaan dari kedua jenis ain tersebut. Ciri-cirinya yang menonjol merupakan qorinah/indikator yang dapat mengeluarkan kita dari kemiripan keduanya sehingga kita dapat mengetahui jenis ‘ain yang sedang menimpa kita.

Sebelum kita masuk ke ciri-ciri menonjol/indikatornya, mari terlebih dahulu kita mengulang kembali definisi dari ‘ain mu’jabah dan ‘ain haasidah. Berikut definisi keduanya dan perhatikan dengan baik-baik perbedaan keduanya agar tidak keliru dalam menvonis suatu penyakit:

1. Ain Mu’jabah

Adalah ‘ain/pandangan yang keluar dari jiwa yang merasa kagum kepada seseorang kepada orang lain sehingga orang lain ini merasakan perubahan negatif pada prilakunya. Jenis ‘ain ini bisa keluar dari orang baik maupun tidak baik dan berpengaruh pada orang yang dikagumi yang berhubungan dengan jiwanya atau perasaannya.

Contohnya: Saya mengagumi kepintaran Ali dengan mengatakan: “Ali kamu pintar sekali“! Atau saya mengagumi kecantikan seorang wanita dengan mengatakan: “Kamu cantik sekali“! Kalau kita perhatikan rasa kagum diatas yang diungkapkan dengan kalimat pujian dan pujian itu tanpa diberkahi, dengan izin Allah, pujian atau rasa kagum tersebut dapat menyebabkan perubahan jiwa dan perilaku seseorang yang kita puji secara tiba-tiba seperti; tiba-tiba malas, ngantukan, suka menyendiri,dan kehilangan nafsu makan.

Dampak-dampak tersebut adalah indikator dari seseorang itu sudah terkena ‘ain mu’jabah/kagum. Perhatikan lagi dan ingat dengan baik-baik!
bahwa ain mu’jabah dapat juga mengakibatkan sakit fisik pada orang yg terkena ain. Dalilnya adalah :

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ بْنِ سَهْلِ بْنِ حُنَيْفٍ ، قَالَ : مَرَّ عَامِرُ بْنُ رَبِيعَةَ بِسَهْلِ بْنِ حُنَيْفٍ ، وَهُوَ يَغْتَسِلُ فَقَالَ : لَمْ أَرَ كَالْيَوْمِ ، وَلاَ جِلْدَ مُخَبَّأَةٍ فَمَا لَبِثَ أَنْ لُبِطَ بِهِ ، فَأُتِيَ بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى الله عَليْهِ وسَلَّمَ فَقِيلَ لَهُ : أَدْرِكْ سَهْلاً صَرِيعًا,( قَالَ مَنْ تَتَّهِمُونَ بِهِ قَالُوا عَامِرَ بْنَ رَبِيعَةَ ) ، قَالَ : عَلاَمَ يَقْتُلُ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ ، إِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ مِنْ أَخِيهِ مَا يُعْجِبُهُ ، فَلْيَدْعُ لَهُ بِالْبَرَكَةِ ثُمَّ دَعَا بِمَاءٍ ، فَأَمَرَ عَامِرًا أَنْ يَتَوَضَّأَ ، فَغَسَلَ وَجْهَهُ وَيَدَيْهِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ ، وَرُكْبَتَيْهِ وَدَاخِلَةَ إِزَارِهِ ، وَأَمَرَهُ أَنْ يَصُبَّ عَلَيْهِ قَالَ سُفْيَانُ : قَالَ مَعْمَرٌ ، عَنِ الزُّهْرِيِّ : وَأَمَرَهُ أَنْ يَكْفَأَ الإِنَاءَ مِنْ خَلْفِهِ.

“Dari Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif, ia berkata: Amir bin Rabi’ah melewati Sahl bin Hunaif ketika ia sedang mandi, lalu Amir berkata: Aku tidak melihat seperti hari ini; kulit yang lebih mirip dengan kulit wanita yang dipingit, maka tidak berapa lama kemudian Sahl terjatuh, lalu beliau dibawa kepada Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, seraya dikatakan: “Selamatkanlah Sahl yang sedang terbaring sakit.” Beliau bersabda: (“Siapa yang kalian curigai telah menyebabkan ini?” Mereka berkata: “Amir bin Rabi’ah.”) Beliau bersabda: “Kenapakah seorang dari kalian membunuh saudaranya? Seharusnya apabila seorang dari kalian melihat sesuatu pada diri saudaranya yang menakjubkan, hendaklah ia mendoakan keberkahan untuknya.” Kemudian beliau meminta air, lalu menyuruh Amir untuk berwudhu, Amir mencuci wajahnya, kedua tangannya sampai ke siku, dua lututnya dan bagian dalam sarungnya. Dan Nabi shallallahu’alaihi wa sallam memerintahkannya untuk menyiramkan bekas airnya kepada Sahl.” Berkata Sufyan, berkata Ma’mar dari Az-Zuhri: Beliau memerintahkannya untuk menyiramkan air dari arah belakangnya”. (HR. Ibnu Majah dari Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif, Shahih Ibni Majah: 2828).

Dari hadits tersebut jelas bahwa ain mu’jabah/ain karena pujian dapat juga menyebabkan sakit fisik.
Dalam praktek dilapangan juga pujian seperti “wah makanan/masakannya enak sekali” lalu tdk lama kemudian yg memasak jatuh sakit, nyeri kaki atau lainnya juga ditemukan.

Kesimpulannya, meskipun secara umum memang ain mu’jabah menyebabkan perubahan jiwa dan perilaku orang terkena ain, tetapi dapat juga menyebabkan sakit fisik seperti ain haasidah (ain karena hasad/dengki)

2. Ain Haasidah

Adalah pandangan yang keluar dari jiwa seseorang yang merasa dengki dan ingin agar orang atau benda yang ia pandang itu rusak atau sakit. Jadi pandangan ini keluar dari jiwa yang kotor melalui mata dengan tujuan agar yang di pandang itu sakit atau rusak.

Contohnya; Saya merasa iri terhadap tetangga saya yang baru saja membeli mobil lalu ketika melihat mobilnya jiwa saya sakit atau merasa iri sekali. Rasa iri ini lalu keluar melalui pandangan mata saya dengan tujuan agar mobil ini rusak,dll. Ketika jiwa kotor ini keluar melalui mata, dengan izin Allah, mobil itu akan rusak walaupun masih baru. Contoh lain seperti; Saya benci sekali pada teman sekolah saya yang memiliki prestasi di sekolah dan setiap kali saya bertemu dengannya,jiwa saya terasa terbakar karena dengki padanya. Jiwa kotor saya ini keluar melalui pandangan saya setiap kali saya bertemu dengannya,maka teman saya ini tiba-tiba sakit dan tidak pernah masuk sekolah lagi.

Jadi indikator/qorinah dari ‘ain haasidah adalah menyerang tubuh bukan menyerang prilaku orang yang kita dengki. Misalnya orang yang kita dengki ini tiba-tiba kepalanya sakit, tiba-tiba divonis kanker,dan lain-lain yang berhubungan dengan sakit pada anggota tubuhnya. Jelasnya qorinah/indikator dari ‘ain haasidah adalah menyerang fisik orang yang didengki bukan menyerang psikisnya. Dari kedua perbedaan ciri diatas, saya berharap agar mulai sekarang kita bisa mengetahui sebab dari ciri yang timbul pada kita atau orang lain. Demikian semoga bermanfaat.

Aamiiin
وصلى الله على محمد وآله وصحبه وسلم.والحمد لله رب العالمين.والله تعالى اعلى و اعلم.
wallahu a’lam bishawab

Sumber: Grup WA Ruqyah Center Sidoarjo

Iklan

Tentang kopisruput

Newbie blogger dan masih terus belajar...
Pos ini dipublikasikan di Fenomena, Kesehatan, Ruqyah Syar'iyyah dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.