Hati Hati Dengan Logika Kita: Hormati Yang Berpuasa, Bukan Hormati Yang Tidak Puasa!!

image

Kopisruput – Sobat sekalian, tidak jarang kita dalam kehidupan sehari hari terjebak dalam logika manusia. Sesuatu yang menurut logika/akal manusia benar, padahal tidak sesuai dengan hukum Allah sang Pencipta. Sebagai contoh adalah kontroversi yang terjadi di awal bulan Ramadhan ini menyangkut gegernya toko makanan yang di razia Satpol PP beberapa hari lalu karena melanggar Perda. Ada yang pro dan kontra mengenai hal tersebut. Lalu bagiamana sobat menyikapi hal tersebut??

Mengenai warung yang berjualan makanan di bulan puasa…Okelah, secara logika manusia kita akan berkata: “Nggak apa apa warung buka pas Ramadhan, toh kalau imannya kuat, nggak akan goyah cuma gara gara warung makanan yang buka.
Saya sendiri, jujur awalnya juga sempat berpikir seperti itu. Namun akhirnya saya sadar pola pikir seperti itu adalah salah, yang lambat laun akan bisa merubah pola pikir kita tanpa tahu aturan sebenarnya.

Lalu bagaimana dengan warung yang buka di bulan Ramadhan menurut Islam??
Berikut ini saya sadur nasehat dari Ustad Felix Siauw dalam memahami hukum Allah.

“Nggak papa warung buka pas Ramadhan, logikanya, kalau imannya kuat, nggak akan goyah sama godaan warung yang terbuka”

Sekilas pernyataan ini benar, padahal salah samasekali. Bila ada yang berpikiran sama seperti diatas, lanjut aja baca, siapa tau berubah hehehe…

Pertama, harus dipahami dulu bahwa dalam Islam, boleh atau tidaknya, bisa atau nggaknya, halal atau haramnya, semua diserahkan pada Allah sebagai pencipta, bukan logika manusia.
Misalnya, benar…jika seorang Muslim itu keimannya kuat, maka dia tidak akan tergoda oleh agama yang lain selain Islam, tapi tidak serta merta lantas membolehkan dia untuk beribadah mengikuti cara agama lain hanya dengan alasan “Gue nggak akan terpengaruh kok!”.

Karena Allah sudah memberikan hukum-Nya, sudah jelas halal dan haramnya.

Nah, bagaimana dengan warung yang tetap buka ketika Ramadhan?

Sejauh yang saya pahami, yang diharamkan adalah memberi makan atau memfasilitasi orang yang mampu berpuasa dan mukim. Sebab “dia menjadi perantara bagi keharaman”. Adapun bila warung itu menjual yang memiliki udzur syar’i untuk tidak berpuasa seperti musafir, ibu hamil dan menyusui, serta anak-anak, maka sah-sah saja

Disinilah letak peraturan itu perlu, maka penguasa boleh saja memberikan regulasi kepada warung-warung makan khusus pada saat bulan Ramadhan untuk mengondisikan bulan Ramadhan, Misalnya:
– Buka menjelang maghrib
– Ditutup dengan tirai dan sebagainya
– Bisa juga dengan menanyai setiap yang datang, lalu menjual hanya bila pembeli bisa menunjukkan bahwa dia memang tidak wajib berpuasa, atau pembelinya bukan seorang Muslim

image

Problemnya tidak selesai sampai disitu. Karena kasus yang akhir-akhir ini mencuat, tidak hanya kasus “warung buka saat Ramadhan” ansih. Tapi isu ini ditunggangi kaum liberal, sehingga menjadi ujung tombak menyerang Perda-Perda yang dianggap syariah, dan menyerang Islam secara umumnya.

Lihat saja jargon salah pikir seperti “hormati yang tidak berpuasa“, atau seperti jargon diatas “kalau puasanya khusyuk, nggak akan terpengaruh kok sama warung buka!

Lha, ini semua terbalik, disini mayoritas Muslim, ini bulan mulianya Muslim, lha seharusnya yang Muslim lebih layak dihormati di bulan mulia ini, bukan malah menantang “Kalau puasamu khusyuk, kamu nggak akan tergoda, kalau kamu tergoda artinya puasamu sia-sia

Mengenai ada Muslim yang justru imannya bertambah kuat saat diuji berat, saat berada di negeri yang bukan Muslim dan notabene tak ada suasana Ramadhan, ini juga tak bisa dijadikan dalil bolehnya bertindak semaunya di bulan Ramadhan.

Walaupun, saya sangat setuju, untuk penindakan pelanggaran satu peraturan yang sudah disepakati, seharusnya bisa lebih bijak dan lebih halus, lebih banyak ke negosiasi dibanding anarkis. Dan bila mau jujur, tidak standar ganda, penggusuran yang dilakukan di ibukota sebetulnya jauh lebih sadis dan jauh lebih tidak manusiawi, dan seharusnya lebih besar dipermasalahkan.

Kembali lagi ke problem utama. Hanya saja, memang problemnya isu ini dimanfaatkan untuk menyesatkan pola pikir masyarakat. Karena kalau logika sesat ini dijalankan terus, maka esok usaha pemurtadan bisa berkedok sama “Kalau kamu yakin imanmu, kamu nggak akan peduli sama pemurtadan, biarin aja!“.

Atau dalam pergaulan “Kalau kamu yakin imanmu kuat, nggak papa kok pelacuran, kalau kamu nggak melacur kenapa takut!“.

Atau dalam ekonomi, “Kalau kamu yakin bisa bersaing, ya nggak papa perusahaan multinasional dan asing bersaing sama kamu!

Atau kita memang sudah terjebak pola pikir begitu?

Nah, demikian sobat nasehat dari ustad Felix Siauw yang menurut saya sudah sangat jelas bagimana kita menyikapi berbagai isu kontroversi akhir akhir ini. Akhir kata, marilah kita mulai dari diri kita masing masing untuk memahami aturan agama dan berhati-hati dengan logika kita. Sebagai Muslim, hukum Allah SWT diatas segalanya. Sudah jelas diterangkan halal haramnya. Tinggal kita mau menjalankannya atau tidak…

Semoga bermanfaat.

Iklan

Tentang kopisruput

Newbie blogger dan masih terus belajar...
Pos ini dipublikasikan di Fenomena, Ngaji, Opini, Peristiwa, Sekitar Kita, Umum dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s